it's a Next Life

Tuesday, December 27, 2005

MA’AFKAN

(11 Juni 2004 /06.00 / Jum’at )

Ma’afkanlah aku
Yang membuatmu
Terlalu lama menungguku
Datangnya pinanganku
Sempat kau ragukan
Sayang ….
Ku tak mampu jika sekarang ….

Dan aku tak bisa
Jika secepat itu
Dengarkanlah aku, Sayang …
Bukan tak ingin
Atau mengulur waktu

Bukan maksudku untuk meninggalkanmu
Kepergianku …
Mencari yang terbaik…

TIDURLAH, BUAH HATIKU

(1 Oktober 2003 / 17.22 / Ramadhan 6th )

Tidurlah kau buah hati
Didalam pelukkan Bunda
Rasakan tentang hangatnya
Sayangnya mengiringimu dewasa

Teduhkanlah hatiku
Melihat kau nyenyak didalam tidurmu
Do’aku untukmu ..
Untukmu yang indah

Kapanpun ‘kan ada
Aku tetap disini
Menjagamu …..
Wahai engkau buah hati
Seperti bintang-bintang
Yang tak lelah bersinar
Jagalah dirimu menanti semua….
Masa depan …

JIWA-JIWA AKRAB

(28 Juli 2003 / 08.46 / Senin )

Jiwa-jiwa yang berpeluh
Berserakan di terik mentari
Mereka lebih berharga
Dari isi dunia

Wajah-wajah yang berbeda
Warna kulit beragam warnanya
Tak kenal namun bersahabat
Dikala mata melihat

Hujan turun …
Kitapun diguyur bersama
Memunculkan ….penghargaan pada jiwa ….

Takkan letih aku melihat wajahmu
Wajah-wajah yang akrab
Walau tiada bicara
Tak adil sangat jika menilai sampulnya
Jiwa-jiwa yang berharga
Bersemayam didalam raga

Aku disini dan kau disana
Mengisi tempat kita masing-masing
Yakinlah tak ada abadi
Semuanya pasti pergi

CERMIN

CERMIN
(15 Juni 2003 / Minggu / 23.15 )

Aku seorang yang selalu penuh amarah
Otakku kecil terlalu sempit ‘tuk bijaksana
Dan herannya aku bangga memanggulnya
Anak kecil didalam tubuh dewasa

Pasir berlian ku menilai siapa yang mencipta
Padang berbagkai nilai subyektifitas terpasang di jiwaku
Berubahlah pribadi sejalan sang waktu rotasi pusat bumi

Begitu banyak di dunia yang tlah berubah
Buatku merah kebodohankah tertulis di keningku ?
Hamba memilki hati, mendengar dan melihat
Tuhan …..
Tolong jangan Kau kunci mati semua

AKU JATUH CINTA KEPADAMU

(5 Juni 2003 / 20.30 / Kamis )

Aku jatuh cinta kepadamu
Sebaiknya kau tahu
Walau nantinya kau berbeda
Nanti cinta tak lagi rahasia

Seringkali coba katakana
Tapi siapa yang membangun dinding untukku …melangkah ….

Kini rasa itu tlah musnah
Terbunuh oleh lamanya waktu
Akulah air yang mengalir
Biarlah jangan terbendung
Aku menuju luasnya lautan

Pasangan jiwa pasti akan bercinta

Kadangkala menetes air mata
Yang tak nampak ….
Air mata didalam jiwa

Tawa riang berat beban
Pernah bermandikan bersama
Waktu melarang cinta terkatakan

LANGIT

( 24 Januari 2003 / Jum’at / 13.20 )

Langit terbentang
Ditinggikan tanpa penyangga dibawahnya
Dan ia tak retak sedikitpun

Hijau biru wajahmu
Sejukkan jiwa dan pandangan mata
Mengusir lelah tiada jenuhnya

Meneduhkan sang pencinta
Petunjuk kaki melangkah
Sebuah dinding pembatas alam ketiga

Luas ….
Luasnya birumu
Engkaulah tempatku merindu …
Rindu Penciptaku
Indah …
Dirimu kertas jiwa
Tempatku tumpahkan tinta anganku …..
Menggambar kekasihku

ATAS NAMA BANGSA

Langkahmu
Jiwamu berpijar
Semangat tergenggam
Demi satu kemenangan
Impian…jadilah kenyataan
Do’a dan upaya
Terciptalah Sang Juara

Majulah langkahmu
Tunjukkan kepada dunia
Engkau pasti bisa merubah dunia

Bangunlah tekadmu
Tinggikan kehormatan
Atas nama bangsa………
Jadilah Sang Juara
Teruskan perjuangan
Sebesar cita-cita
Atas nama bangsa…….
Jadilah engkau Sang Juara

P21503


( 29 Mei 2003 / 10.50 / Kamis )












Masih ada langkah tersisa
Tawarkan tanjakan mendaki lelah
Satukan tangan kita dan saling menopang jalan

Watu Gede manjakan putus asa
Tiang menanjak dipeluk kabut dingin
Bermalam kita disini dan menghitung banyaknya bintang

Berbaur……..Tumbuhkanlah kedewasaan kami…..

Kami coba meraba
Mengartikan semua suka duka yang tercipta
Tali langit yang berkelip
Api unggun menghangatkan
Baunya khas ketika Raja Malam menjelang

Kaki berpijak
Mata hilangkan letih
Terus merangkak pada punggung Sang Bumi

Peluhpun deras basahi bebatuan
Kadang keluh kesah hiasi bibir jurang
Tegakkan semangat yang miring
Kita harus ada di puncak sana

Angin dingin yang menusuk
Kabut basah yang menyiram
Kami butuh hangatnya tenda
Takkan pernah ‘kan hilang kenangan raga ini
Walau nanti kita saling berpisah

WALAU BUKAN BINTANG

Pernah kau coba rentangkan hayal
Dirimu terbang setinggi bintang
Berkelap-kelip pamerkan busana
Keindahan yang kau harap

Pernah juga kau burung di awan
Kepakkan sayap menari di angkasa
Meninggalkan seisi dunia
Sayapmu rapuh nan indah

Bila kau tahu tentangmu
Seindah kupu-kupu yang hinggap di taman
Begitu cantik sayap-sayapmu
Walau bukan bintang yang bersinar

JIKA SAJA KAU YAKIN,AKU AKAN MENJEMPUTMU

( 11 Desember 2003 / 10.00 / Kamis )

Jika memang kau yakin akan diriku yang menjemput di negeri seberang
Berdo’alah agar kudatang segera dan membawamu ke istana

Bintang – bintang …
Berdiri berjajar menerangi jalan
Akan aku ‘kan kembali pulang ….
Bersamamu …….

Takkan ada yang tersisa ….
Sampai aku membawamu
Namun jika ternyata kau tercipta bukanlah untukku …
Kenanglah aku …..

KEAJAIBAN CINTA

( 26 April 2003 / 11.15 / Sabtu )

Langit memerah menyambut rembulan
Takkan menghentikanku mencarimu
Menuju batas bumi
Berselimutkan kabut
Menjemput dirimu pasangan jiwaku

Dimanakah engkau separuh hatiku ?
Hilangkan hausku meminum senyummu

Rasa rinduku adalah racun membunuh
Segala penawar bertemu denganmu
Pasti ‘kan aku temukan
Dirimu di rahasia
Kini esok lusa nanti ‘kan bertemu

Telanjang kakiku di panas Sahara
Membayang wajahmu sejukkan ragaku
Gunung bukit merendah mudahkan jalanku
Menjemput dirimu …..
Layla kekasihku ……

Duri-duri melunak nyamankan kakiku
Mentari meleleh terkena sinarnya
Ragaku sendiri terbasuh air mata
Terpatri wajahmu di jiwa lapangku



LANGIT
( 24 Januari 2003 / Jum’at / 13.20 )

Langit terbentang
Ditinggikan tanpa penyangga dibawahnya
Dan ia tak retak sedikitpun

Hijau biru wajahmu
Sejukkan jiwa dan pandangan mata
Mengusir lelah tiada jenuhnya

Meneduhkan sang pencinta
Petunjuk kaki melangkah
Sebuah dinding pembatas alam ketiga

Luas ….
Luasnya birumu
Engkaulah tempatku merindu …
Rindu Penciptaku
Indah …
Dirimu kertas jiwa
Tempatku tumpahkan tinta anganku …..
Menggambar kekasihku